POLA MORTALITAS DI INDONESIA

19 04 2009

u2_skullTingkat kematian atau mortalitas merupakan salah satu indikator utama dari derajat kesehatan masy

arakat di sebuah negara. Sejauh ini tingkat kematian ini biasanya diukur secara statistik terutama berdasarkan jumlah kematian dari kelompok paling rentan yaitu angka kematian

bayi (diukur dengan Infant Mortality Rate atau IMR) dan kematian ibu (Maternal Mortality Rate atau MMR).

Sebagai ilustrasi awal dari angka kematian anak pada tahun 2000 menurut WHO masih mencapai 10,6 juta anak per tahun, dan dari jumlah itu Indonesia “menyumbang” 280.000 nyawa anak, serta bersama 41 negara lain memberi kontribusi sebesar

90% dari total kematian anak sedunia. Disisi lain pemerintah sendiri telah membuat target pada tahun 2009 ini untuk menurunkan IMR menjadi 26 kasus per 1000 kelahiran hidup dan MMR menjadi 226 kasus per 100 ribu kelahiran hidup. Sedangkan jika berdasarkan target Millenium Development Goals (MDGs) maka setiap negara diharapkan pada tahun 2015 mampu menurunkan angka kematian bayi dan ibu menjadi dua pertiga dan tiga per empat dari angka kematian yang telah dicapai di tahun 1990.

Sampai saat ini bagaimana sebenarnya perkembangan pola mortalitas yang terjadi di Indonesia? Untuk mengetahui itu paling tidak kita dapat melihat hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan pada tahun 2007 dan diterbitkan pertengahan tahun 2008. Meskipun model pendataan kematian yang dilakukan dalam Riskesdas sedikit berbeda, yaitu menggunakan pengkategorian menurut pengelompokkan sesuai umur, penyebab kematian dan perbedaan wilayah dari kasus kematian tersebut. Responden yang diteliti sebanyak 258.488 rumah tangga dan berhasil teridentifikasi 4323 kasus kematian dan 91 kasus lahir mati. Semua sampel tersebut yang kemudian di audit verbal sebanyak 4014 kasus kematian. Hasilnya untuk nilai Crude Death

tengkorak-dance

Rate(CDR) tahun 2007 mencapai 3,6 per 1000 penduduk, dimana hasil ini lebih kecil dari pendataan BPS tahun 2006 (CDR sekitar 6,5) dan hasil dari SKRT tahun 2001 yaiktu CDR-nya sekitar 4 per 1000 penduduk.

Pola Penyebab Kematian
Trend angka kematian kasar menurut kelompok umur dari tahun 1995-2007 menunjukkan pola peningkatan risiko kematian yang meningkat pada usia diatas 45 tahun, dan paling signifikan terjadi pada kelompok umur diatas 65 tahun (dari sekitar 30% di tahun 1995 menjadi 45% di tahun 2007).

Sedangkan trend penurunan terbesar terjadi pada kelompok umur < 1 tahun. (dari sekitar 18% di tahun 1995 menjadi 8% di tahun 2007). Kondisi ini menunjukkan adanya child survival rate yang cenderung semakin baik di Indonesia, sedangkan peningkatan trend kematian yang terjadi pada kelompok umur diatas 45 tahun maupun diatas 65 tahun kemungkinan besar terkait dengan pola penyakit yang mengalamai transisi epidemiologis.

Hal ini bisa dilihat dari pola penyebab kematian kasar yang didominasi oleh penyakit degeneratif dengan menempati ranking 3 besar yaitu Stroke 15,4%, Tuberculosis 7,5% dan Hipertensi 6,8%. Justeru yang menarik dari penyebab kematian tersebut adalah posisi ranking ke empat ternyata diakibatkan oleh cedera (6,5 %) sehingga mengindikasikan bahwa pembunuh potensial saat ini dan kedepan akan bergeser pada trend kematian akibat kecelakaan di jalan atau transportasi (46,4% dari kematian akibat cedera).Situasi ini tentu membutuhkan perhatian, kewaspadaan dan antisipasi yang serius dari semua pihak, baik dari departemen perhubungan, kepolisian, pengusaha transportasi dan tentu saja masyarakat itu sendiri.

Sedangkan tiga besar penyebab kematian perinatal/maternal yang menduduki rangking ke lima, secara umum masih belum bergeser dari pola lama yaitu Intra Uterine Fetal Death (IUFD) atau kematian janin dalam rahim (31,3%), asphyxia atau ganguan pernafasan (20,4%) dan premature (18,7%).

Proporsi Menurut Kelompok
Perbandingan proporsi penyebab kematian di tahun dari tahun 1995-2007 jika dikategorikan menurut empat kelompok besar diperoleh hasil analisis trendnya sebagai berikut: 1) Kelompok yang mengalami trend menurun paling tajam adalah kelompok penyakit menular (rata-rata turun sekitar 1% per tahun); 2) Kelompok yang mengalami trend meningkat paling signifikan adalah kelompok penyakit tidak menular (rata-rata naik sekitar 1,5% per tahun); dan 3) Kelompok gangguan perinatal/maternal dan kelempok cedera relatif tetap.

Berdasarkan perbandingan kelompok daerah diperoleh pola mortalitas antara pedesaan dan perkotaan yang relatif sama. Akan tetapi ada satu yang cukup signifikan dalam hasil trendnya yaitu pada kelompok gangguan perinatal/maternal di pedesaan antara tahun 2001 – 2007 malah cenderung meningkat dari 5,7% menjadi 7,7% sedangkan di perkotaan menurun dari 6,5% menjadi 4,5%.

Secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa distribusi angka kematian akan semakin meningkat atau berbanding lurus dengan bertambahnya umur. Penyebab kematian akibat cedera diprediksi akan semakin mengkhawatirkan. Selain itu ada indikasi bahwa risiko kematian masih lebih banyak mengancam kelompok bayi dan ibu melahirkan di wilayah pedesaan dibandingkan di perkotaan. Sedangkan transisi epidemiologis akan kian terlihat jelas merujuk pada trend kelompok penyakit menular cenderung makin kecil sebagai penyebab kematian dibandingkan kelompok penyakit tidak menular. Kemungkian besar pola tersebut dapat makin diperberat oleh adanya transisi demografi, mobilitas yang semakin tinggi dan perubahan perilaku atau life syle dari penduduk.

Referensi:

http://www.ziddu.com/download/4357268/MORTALITAS.pdf.html

About these ads

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: