EFEK “DEMAM FOGGING”

25 05 2009

Akhir-akhir ini kalau kita perhatikan masih muncul fenomena di sejumlah daerah yang orang sering menyebutnya sebagai “demam fogging”. Salah satu pemicu utamanya adalah akibat manuver gencar dari partai politik yang mencoba menarik simpati konstituennya melalui penawaran fogging secara gratis. Pada saat yang hampir bersamaan juga muncul bentuk kolaborasi sistematis yang dilakukan beberapa perusahaan swasta yang juga melibatkan media massa yang cukup gencar diberitakan tentang “keberhasilan” gerakan fogging tersebut. Hal ini terkesan menjadi “mainan baru” untuk ajang publikasi bersama yang dikemas cukup sistematis dan serius, tentu dengan beberapa “klaim” yang akhirnya kalau tidak hati-hati justeru bisa berujung pada pemberitaan yang terlalu bombastis bahkan menyesatkan.

Memang sekilas ada sisi positif dari merebaknya “demam fogging” tersebut dimana ada gerakan massal sebagai bentuk partisipasi aktif dari segenap komponen masyarakat terutama kalangan pengusaha, mass media dan tentu saja para politisi. Harapan dari semua itu nantinya bisa mendukung keberhasilan pemberantasan penyakit Demam Berdarah Dengue maupun penyakit menular lain yang ditularkan lewat vektor nyamuk. Akan tetapi dari semua komponen yang terlibat, kira-kira berapa banyak yang juga menyadari ada sisi buruk maupun kurang efektinya kegiatan fogging dan apa saja yang harus diwaspadai terkait efek  pemberitaan“demam fogging” ini ?

Magnitude Penyakit DBD

Sebelum membahas tentang efek “demam fogging” sebaiknya kita bisa mencermati lebih dahulu tentang trend dari penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Ini penting agar semua pihak bisa melihat secara lebih proporsional ‘magnitude” problem sebenarnya yang perlu diperhitungkan oleh semua pihak yang ingin terlibat dalam upaya pemberantasan DBD termasuk melalui kegiatan fogging. Dari data WHO-SEARO tahun 2008 diperoleh gambaran trend kasus DBD dari tahun 1985-2006 yang menunjukkan pola peningkatan jumlah kasus secara cukup signifikan namun dengan case fatality rate (CFR) yang cenderung menurun. Hal ini mengindikasikan bahwa strategi & upaya pemberantasan DBD yang selama ini diterapkan masih kurang efektif, disisi lain ada kemajuan dalam penanganan penderita sehingga tingkat kematian akibat DBD semakin kecil. Data lengkap seperti terlihat dalam tabel berikut ini:

Tren DBD dari 1985-2006 di Indonesia

Tren DBD dari 1985-2006 di Indonesia

(sumber : WHO-SEARO, 2008)

Data lebih baru menunjukkan pola penyebaran daerah endemis juga semakin merata di seluruh Indonesia, di tahun 2007 malah terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di 11 Provinsi dan daerah kabupaten yang terjangkit mencapai 357 kota/kabupaten (81,2%) Sedangkan ditilik dari pola sessional akan mencapai puncak pada bulan Januari-Pebruari, menurun kembali di bulan Maret dan mencapai titik terendah pada bulan September-Oktober.  Pemetaan kasus DBD di Indonesia tahun 2007 dapat dilihat dalam gambar berikut ini

Pemetaan DBD Indonesia 2007

Pemetaan DBD Indonesia 2007

(Sumber: Dirjen PPBB, Depkes RI, 2009)

Efek X-Musquitos & Resistensi

Ibarat pepatah “patah tumbuh hilang berganti”, demikianlah kira-kira gambaran pendekatan yang mendewakan fogging dalam pemberantasan DBD. Mengapa? Karena efek fogging hanya akan membunuh nyamuk dewasa saja. Pada saat yang sama sekitar 200-400 jentik-jentik nyamuk akan siap menggantikan induknya yang terbunuh hanya dalam waktu seminggu saja. Jadi jangan sekali-kali sampai ada klaim dengan sekali fogging maka daerah itu bisa “bebas” dari nyamuk DBD!. Sekalipun fogging dilakukan tiap seminggu sekali (diseusaikan siklus nyamuk) ternyata  hasilnya kasus DBD makin merebak seperti kasus yang terjadi di Bontang, Kaltim tahun 2008. Pelajaran dari kasus ini seharusnya membuat semua pihak harus lebih bijaksana saat ingin menjadikan fogging sebagai salah satu atau malah satu-satunya upaya pemberantasan DBD.

Mengapa kasus diatas bisa terjadi? Memang belum ada penelitian yang sahih untuk menjawab itu, tetapi patut diduga karena sudah terjadi resistensi terhadap insektisida yang dipakai untuk fogging seperti Malathion 0,8% atau yang lain.  Kemungkinan besar hal ini terkait dengan ketidak patuhan petugas melaksanakan standar operating prosedur fogging atau efek migrasi nyamuk di luar daerah fogging focus (meliputi area 200-300 m2 saja) sehingga ada kemungkinan nyamuk DBD yang punya jelajah terbang sampai 100 m memang tidak terpapar dosis insektisida secara adekuat. Kalau hal ini berlangsung secara terus menerus maka akan terjadi resistensi. Akibat resistensi ini memberikan dampak lain yang lebih mengkhawatirkan yaitu munculnya varian baru yang dikenal sebagai “X-musquitoes” atau “muxxxquitoes” yang ditengarai merupakan varian terganas dari nyamuk DBD yang bertanggung jawab terhadap munculnya Dengue Shock Syndrome (DSS) dan kematian.

Upaya Lebih Cerdas

Kembali lagi, kita mesti ekstra waspada terhadap dampak dari demam fogging beserta pemberitaannya yang cukup masif namun terkesan menyesatkan tersebut. Ada baiknya kedepan semua pihak terutama dari kalangan pengusaha dan media massa yang telah peduli dan ingin berpartisipasi secara aktif dalam program pemberantasan DBD mau mengevaluasi secara lebih cermat antara risiko dan benefit dari kegiatan fogging ini. Masih banyak upaya strategis lain yang telah terbukti secara ilmiah mampu menekan perkembangan nyamuk DBD dibandingkan hanya dengan melakukan fogging. Bahkan oleh pemerintah sudah dibuat kampanye melalui gerakan “3M plus”, mengapa tidak mensinergikan atau mengkolaborasikan  dana dan  tenaga yang selama ini banyak terkuras untuk fogging ke dalam berbagai kegiatan pencegahan lain yang telah dirintis oleh pemerintah melalui gerakan “3M plus” tersebut?

Untuk bisa memberikan efek sinergis dan efektif sekaligus bisa secara cerdas mampu memelihara “branding” yang ingin dicapai sebagai bentuk nyata dari misi “corporate social & environmental responsibility” dari kalangan pengusaha dan media melalui upaya pemberantasan DBD, seharusnya mereka tidak perlu sungkan melibatkan stakeholders lain yang selama ini belum terlibat secara proporsional minimal dari kalangan akademisi serta tentu saja dari kalangan masyarakat itu sendiri. Pemberdayaan masyarakat menjadi tantangan yang menarik untuk dielaborasikan dalam kegiatan pemberantasan DBD, karena tanpa dukungan nyata dan partisipasi aktif dari masyarakat maka apapun bentuk intervensi yang ditawarkan dari pihak luar akanlah sia-sia.

About these ads

Actions

Information

3 responses

17 06 2009
Noor Faizah

Lebih lugasnya adalah fogging merupakan cara yang secara fisik lebih terlihat dibanding 3M, abatisasi dan ovitrap misalnya. Sebagai upaya populer yang tak hanya ditunggangi parpol namun juga kepala daerah untuk membuktikan telah berbuat “sesuatu” untuk rakyatnya secara instan dan tanggap.
Sewaktu kami minggu kemarin desk dengan tim anggaran dan ditemui jumlah liter (solar) BBM yang digunakan sebagai pelarut dan mesin fogging mencapai angka yang fantastik, maka efisiensi penggunaan bahan bakar tersebut diperbandingkan dengan mesin perontok padi yang relatif lebih sedikit membutuhkan bbm (tapi apa iya benar perbandingannya)?
Rumusnya :
Bensin perjalanan fogging = 10 lt x harga bensin x 300 kasus x 2 putaran
Bensin mesin fogging = 15 lt x harga bensin x 300 kasus x 2 putaran
Solar pelarut malathion = 20 lt x harga solar x 300 kasus x 2 putaran
Kami sendiri lebih setuju mengurangi “foggingisasi” dengan alasan seperti telah disebut Pak Topo diatas ditambah residu/cemaran yang ditimbulkan. Kita sepertinya balik lagi kejaman pasien yang suntik minded dan sekarang fogging minded. Salah kita jugakah, para “pemelihara program?”

21 06 2009
p4kundip

mba Noor Faizah, terimakasih sudah memberikan komen dr artikel demam fogging. maaf jk agak telat membalasnya. Benar kalau banyak politisasi dlm fogingisasi akhir2 ini dan justru itu jg menjadi konsumsi berita yg terkesan bombastis terakhir di koran SM yg mengklaim hasilnya telah membebaskan sekian ratus desa atau rumah dr nyamuk DBD dr hasil gerakan Marimas & Tuguluwak Peduli Kesehatan …?? Klaim keterlaluan ini yg kemudian aku coba respon melalui tulisan di SM di kolom kesehatan hari kamis berikutnya … cuma kelihatannya mrk msh adem ayem …? maksudku sih biar jadi polemik jg nggak apa2 …nah kalau sdh polemik ..maka dr para penguasa program silahkan bersuara keraaaas!!! .. he..he. Setidaknya setelah itu minimal mrk akan lebih hati2 dlm mengeskpose beritanya ya mba ..setuju ?

30 05 2010
SKRIPSI ARTIKEL MAKALAH

makasih infonya n salam kenal aja ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: